Hukum Allah
    Bab 5 
 D A
     
   www.dianweb.org Home Daftar Isi

 

 

 

5.  HUKUM  ALLAH  SESUDAH  MASA  KRISTUS

 

 

Sementara kematian Kristus mengakhiri otoritas hukum keupacaraan (dibahas dalam Bab 6), justru Sepuluh Firman itu ditegakkannya. Kristus menganggung kutuk hukum, dengan demikian membebaskan umat percaya dari hukuman. Dengan melakukan demikian, bukan berarti bahwa hukum itu sudah dihapuskan dan memberikan kebebasan kepada kita untuk melanggar asas-asas atau prinsipnya.

 

Cukup banyak kesaksian yang diperoleh di dalam kitab Suci mengenai kekalnya hukum itu, menolak pandangan yang disebutkan di atas.

 

Calvin dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak boleh membayangkan kedatangan Kristus telah membebaskan "kita dari kekuasaaan hukum; karena hukum itulah peraturan yang abadi dari pengabdian dan hidup yang suci, dan harus, karena itulah keadilan Allah yang tidak pernah dapat berubah."

27 Doktrin Alkitabiah, diambil dari Calvin, "Commenting on a Harmony of the Evangelists", terjemahan William Pringle (Grand Rapids: Wm B. Eerdmans, 1949), jld 1, hal 277.

 

 

1. Dari Sepuluh Perintah itu mana yang dapat dihapuskan?

a . Tentu saja bukan perintah yang pertama karena ini akan memberikan sanksi kepada politeisme (pemujaan dewa-dewa) dan darah Kristus tidak dapat menyelamatkan manusia jika mereka mempercayai banyakdewa. 

b . Ini juga benar mengenai perintah kedua. Orang-orang yang sujud kepada patung-patung memerlukan Injil dan darah Kristus.

c . Yesus menyatakan kewajiban yang mengikat dari perintah ketiga. Baca Matius 5:34 dan Yakobus 5:12.

d . Meniadakan perintah keempat akan membuang salah satu dari berkatberkat Allah yang terbesar kepada manusia. Yesus memelihara hari Sabat. Baca Lukas 4:16; Msrkus 2:27. Hsri Sabat abadi sebagaimana kekekalan. Baca Yesaya 66:22, 23.

e . Perintah kelima adalah dasar dari semua hubungan keluarga. Ini adalah perintab pertama dengan perjanjian. Baca Efesus 6:1, 2.

f . Yesus meninggikan tuntutan yang mengikat dari perintah keenam. Baca Matius 5:21, 22. Bandingkan I Yohsnes 3:15.

g. Keempat yang terakhir tidak dapat dikesampingkan. Masing-masing penting dan semakin teliti kita memelihara perintah-perintah ini melalui kuasa Kristus semakin banyak kedamaian, kegembiraan, kebahagiaan, kasih dan kuasa yang akan kita miliki. Baca Mazmur 119:97, 165.

h . Hukum Allah bukahlah kuk perhambaan. Itu disebut Hukum kemerdekaan. Baca Yakobus 1:25.

 

2. Bagaimanakah Sepuluh Hukum Allah dalam Keluaran 20:1-8 diulangi dengan tegas dalam Perjanjian Baru?

I

"Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! "Matius 4:4

II

  "Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia." I Yohanes:5 : 21, Kisah Para Rasul 17 : 29 

III

"Agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang." I Timotius 6 : 1.

IV

"Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat."  "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."  "Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya, ...  Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.  "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi"  Matius 24:20; Markus 2:27,28; Ibrani 4:4, 9-10; Kolose 1:16.

V

"Hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."  Matius 19 : 19

VI

"Jangan membunuh" Matius 19:18, Roma 13:9

VII

"Jangan berzinah"  Matius 19:18, Roma 13:9

VIII

"Jangan mencuri" Matius 19:18, Roma 13:9

IX

"Jangan  mengucapkan saksi dusta" Matius 19:18

X

"Jangan mengingini" Roma 7:7, 13:9

 

 

 

3. Apakah kematian Kristus menghancurkan Kesepuluh Perintah itu? Bagaimana rasul-rasul menghormati hukum ini ?

Baca Roma 7:7, 12;  Yakobus 2: 10-12. Rasul-rasul tidak melihat penyerahan Kesepuluh Perintah itu di kayu salib. Kepada mereka Kesepuluh Perintah itu adalah suci, benar dan baik dan selalu menginsyafkan orang berdosa akan keperluannya terhadap Juruselamat. Mereka melihat peraturan-peraturan itu sebagai penuntun untuk hidup dan standar penghakiman terakhir.

Catatan :

Baik KeSepuluh Perintah maupun Hukum Upacara (mengenai sunat, peraturan makanan dan minuman sehubungan upacara, hari-hari raya, sabat-sabat tahunan) disebut sebagai Hukum Taurat. Namun harus kita bedakan mana yang tetap berlaku dan mana yang sudah tidak berlaku.

 

 

4. Apa pengaruh kematian Kristus kepada hukum upacara?

"Sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera." Efesus 2: 15.

Catatan : Kematian Kristus di kayu salib mengakhiri sistem upacara oleh karena Ia adalah Anak Domba terhadap siapa makna semua korban ini ditujukan. Karena Kristus sudah menggenapi maka upacara ini tidak berlaku lagi. Bayangan telah menemukan tujuannya. Lebih jelasnya lihat dalam bab 6 - hal 5.

 

 

5. Sejak kapan hukum upacara berakhir ?

Pada saat Yesus menyerahkan nyawaNya di kayu salib dan tabir bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Matius 27: 50). Kini orang berdosa dapat langsung menghampiri tahta kasih karunia Allah tanpa harus melalui pengantara Imam-imam (Ibrani 4: 16).

 

 

6. Apa yang Paulus katakan mengenai hukum Taurat?

 

"Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya." Roma 3:31

"Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-sekali tidak!" Roma 6:15

"... Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa." Roma 7:7

"Jadi hukum Taurat adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik" Roma 7:12

Catatan : Hidup di bawah anugrah tidak berarti meniadakan hukum Taurat. Orang yang hidup dibawah kasih karunia tetap taat pada hukum karena ingin menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan

 

 

7. Apakah artinya hidup dibawah hukum?

 

Lihat Galatia 3:12 " Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya." Jadi artinya "Hidup dibawah hukum" adalah menuruti hukum agar mendapatkan keselamatan.

 

Selama manusia berada dibawah hukum, ia tetap dibawah kuasa dosa, karena hukum tidak dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman maupun dari kuasa dosa. 
 

Catatan : Jangan sampai kita menjadi seorang "legalis", hidup di bawah hukum. Ketaatan kita kepada hukum Tuhan adalah pernyataan kasih kita karena Dia sudah (bukan supaya) menyelamatkan kita.

 

 

8. Bagaimana Paulus melukiskan hubungan antara penurutan terhadap hukum dan Injil anugerah yang menyelamatkan?

 

Paulus memanggil orang-orang beriman agar hidup suci, ia menantang mereka agar mereka mempersembahkan diri sendiri "menjadi senjata-senjata kebenaran".  "Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." Roma 6:13,14.

 

Oleh karena itu, orang Kristen tidak memelihara hukum untuk memperoleh keselamatan. Hukum tidak dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman maupun dari kuasa dosa. Akan tetapi barangsiapa yang berada di bawah anugerah menerima bukan saja kelepasan dari hukuman (Roma 8:1), tetapi juga kuasa untuk mengalahkan (Roma 6:4). Dengan demikian, maka dosa tidak lagi berkuasa atas mereka. "Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang percaya'" (Roma 19:4).

 

Di bawah anugerah itu, bukanlah berarti orang-orang beriman bebas dan "bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia" (Roma 6:1). Sebaliknya, anugerah menambah kuasa yang membuat penurutan dan kemenangan atas dosa itu mungkin diperoleh. "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus" (dalam bahasa Indonesia terejemahan baru) "yang tidak menuruti keinginan daging melainkan menurut Roh (terjemahan dalam bahasa Inggris - Roma 8:1).

 

 

9. Mengapa Paulus menyebutkan Perjanjian Lama dalam Galatia dan Ibrani? Apakah Allah mempunyai dua cara untuk berurusan dengan manusia? Apa perbedaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

Allah tidak pernah membuat 2 macam perjanjian. Karena manusia (bangsa Israel) yang telah membuat perjanjian anugrah menjadi sesuatu yang berdasarkan perbuatan, maka Allah perlu membuat perjanjian yang baru (Ibrani 8 : 8-10).

 

a . Perjanjian Lama didasarkan atas perbuatan sedangkan Perjanjian Baru didasarkan atas iman (Galatia 3:2).

 

Catatan:

Perjanjian lama yang dimaksud di sini bukanlah Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama ataupun hukum-hukum yang lama; tetapi suatu cara pendekatan. Cara pendekatan Allah yang pertama sudah disalah mengerti. 
 

Paulus menyatakan dalam Galatia 4:22-26 bahwa sebagaimana Abraham memutarbalikkan penggunaan Hagar - membuat dia istri untuk memperoleh anak - demikian juga Israel memutarbalikkan ajaran-ajaran moral dan upacara dari rencana hukum dan injil kepada sistem perbuatan semata-mata (turutlah itu semua dan engkau akan diselamatkan). Itulah sebabnya yang lama itu disebut lama karena bangsa Israel memutarbalikkan perjanjian itu kepada sistem perbuatan.

 

Allah tidaklah adil jika Ia  membuat perjanjian lama yang berdasarkan perbuatan lalu menghukum mereka karena smereka tidak dapat memenuhinya. Allah memberikan kepada manusia perjanjian dasar yang sama dengan yang telah Dia berikan kepada Abraham. Itu menjadi sistem perbuatan adalah karena kemurtadan bangsa tersebut - hal ini tidak pernah direncanakan Allah.

 

b. Kesalahan di Sinai terletak pada orang-orang yang gagal mempertahankan hubungan mereka dengan perjanjian Allah. Kemudian perjanjian itu dirumuskan untuk mereka berdasarkan lambang-lambang dalam kaabah yang tepat pada waktunya akan berakhir.

 

c . Apabila orang meninggalkan pengalaman perjanjian baru untuk hidup di bawah perjanjian lama, dia jatuh dari anugerah. Baca Galatia 5:1-5.

 

 

10. Mengapa Paulus kadang menyebut hukum Taurat sebagai kuk?

Ada dua sebab:

(1) Ahli Taurat dan orang Farisi  mengubah hukum  itu menjadi suatu sistem keselamatan oleh perbuatan. Inilah yang membuatnya menjadi perhambaan (catat pembahasan Petrus dan Paulus --Kisah 15:9-11; Galatia 2:16; 5:4-6).

(2) Ahli Taurat dan orang Farisi menambahkan banyak ajaran dan tuntutan tradisi (baca Markus 7:1-13), hal-hal yang hanya menjadi beban,  termasuk  mengharuskan melakukan hukum upacara/ seremonial meskipun sebenarnya tidak berlaku lagi.

Catatan : Ada golongan tertentu dalam Yudaisme,  yang banyak ditentang Paulus dalam suratnya di Galatia (2:3-5, 3:1-4, 5:2-11, dan 6:12-15). Mereka ini mengajarkan bahwa meskipun kita sudah menerima Krsitus, untuk selamat harus tetap melakukan hal-hal tertentu (iman+perbuatan). Golongan yang sama ini juga menunjukkan keberatannya dalam Kisah 15:1.

 

 

11. Nama lain apa yang diberikan rasul Yakobus kepada hukum Allah?

"Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," kamu berbuat baik. Tetapi jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran. ... Sebab la yang mengatakan "Jangan berzinah," la mengatakan juga "Jangan membunuh." Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum yang memerdekakan orang" Yakobus 2:8-12.

Catatan: Yakobus menyatakan "Sepuluh Hukum Allah" ("Jangan berzinah,  "Jangan membunuh") sebagai penjabaran Hukum Kasih; yang disebut juga hukum kemerdekaan. Hukum itu mengandung prinsip-prinsip yang olehnya manusia akan dihakimi/diadili (Yakobus 2:12)

 

 

12. Apakah bisa mengabaikan salah satu perintah yang terdapat dalam Sepuluh Hukum?

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab la yang mengatakan "Jangan berzinah," la mengatakan juga "Jangan membunuh." Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga. Yakobus 2:10-11.

 

 

13. Apa yang dimaksud dengan  "perintah baru" ?

 

Yesus berkata dalam Yohanes 13:34 :"Aku memberikan perintah baru kepada kamu,  yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pila kamu harus saling mengasihi."

Apakah memang itu benar-benar suatu perintah baru? Rasul Yohanes yang menulis buku yang sama menjelaskan dalam I Yohanes 2:7-8 "Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu,  melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya." Perintah yang lama itu disebut baru sebab kasih itu sudah nyata di dalam diri Kristus.

 

 

14.  Beberapa ayat yang sering disalah mengerti :

 

~ Kisah Para Rasul 15

Persoalan utama ada pada awal perikop ini (ayat 1) "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.". Masih ada sebagian pengikut Kristus yang menganggap bahwa keselamatan didapat melalui penurutan terhadap hukum Taurat, khususnya dalam hal ini peraturan sunat. Petrus dan Yakobus menjernihkan masalah ini dengan menegaskan bahwa keselamatan adalah kasih karunia (ay 11) dan memberikan peraturan-peraturan dasar bagi seseorang petobat baru (ay 20), yang berasal dari para penyembah berhala.  Untuk memahami lebih lanjut silakan klik di sini.

 

 

~ Efesus 2 : 15

"sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,"

Bacalah keseluruhan pasal 2. Mulai ayat 11 dipaparkan perbedaan-perbedaan atau hal-hal yang tidak didapat oleh bangsa-bangsa non Yahudi. Kuncinya adalah pada ayat 14 "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, ...(ayat 15). Dengan demikian jelas maka yang dirobohkan (dibatalkan) adalah "perseteruan", dengan kata lain adalah,  "hukum-hukum yang sebelumnya mengadakan pembedaan atau pemisahan antara bangsa Yahudi dan bangsa non Yahudi" kini ditiadakan. Hukum yang membedakan hal ini adlaah Hukum Upacara, dimana dalam praktek sebelum kematian Kristus, terdapat 'tembok pemisah' dalam Bait Allah antara jemaah Yahudi dan jemaah non Yahudi. Jadi hukum Taurat yang dibatalkan adalah yang berkaitan dengan upacara (ceremonial law).

 

~ Roma 7 : 4

"Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia..." 

ayat 6 : "Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia,.."

 

Menurut ilustrasi ini, suami pertama adalah Hukum Taurat, suami kedua adalah Kristus, kita adalah istri, yang mati adalah kita bukan hukum Taurat.

Warren Wiersbe dalam "Benar di dalam Kristus" hal 73 mengatakan, " Ketika kita belum diselamatkan, kita berada di bawah kuasa hukum Allah. Kita dihukum oleh hukum Taurat. Ketika kita percaya kepada Kristus dan dipersatukan dengan Dia, kita mati bagi hukum Taurat sama seperti kita mati bagi daging (Roma 6:1-10). Hukum Taurat tidaklah mati, kitalah yang mati ... Seandainya sang istri yang meninggal dalam ilustrasi tersebut, jalan satu-satunya ia dapat menikah lagi ialah kembali dari antara orang mati. Tetapi memang inilah yang ingin diajarkan Paulus."

 

Istri yang telah mati dan hidup lagi, tidak lagi takluk pada suami yang pertama. Ia juga tidak bersuamikan dua, bagi suami pertama sang istri telah mati.

Kita telah mati bagi Hukum Taurat, namun kasih karunia Kristus bagi orang percaya telah membangkitkan kita, sehingga kita kini menjadi milik Kristus ( ayat 4 ). Sesudah menjadi milik Kristus, kita hidup bagi Kristus, bukan untuk hukum Taurat. Hidup untuk hukum Taurat adalah melaksanakan hukum Taurat semata-mata untuk mendapatkan pembenaran diri / keselamatan (legalisme). 

 

Satu  ilustrasi yang baik mengenai hukum Taurat diperbandingkan dengan kasih karunia :

 ("Our Daily Bread" terbitan RBC Ministries, Wednesday, April 23 edisi March-May 1997, berjudul "Connected", ayat renungan Galatia 3 : 1-10)

A famous clockmaker took a visitor through his shop and pointed out two ways of regulating the time of the instruments. In one method, a master clock sounded a note at set intervals. If the other clocks were wrong, the signal would reveal their error, but it didn't set them right.

In the other method, a chronometer was connected electrically to several other clocks. Each beat of these time pieces was controlled by that master clock.

The first way of regulating time is a picture of God's law. It strikes the signal, pointing us to the Lord's perfect standards, but it cannot correct the wrong. The second method is a picture of God's grace. What the law could not do, grace can do.

God's law reveals sin, but it is powerless to save us from sin, It can show our weakness, but it cannot provide strength. It can condemn, but it cannot justify. The law commands, but it does not enable. The law kills, but grace gives life.

 

Terjemahan:

(Di Indonesia "Our Daily Bread diterjemahkan menjadi "Renungan Harian" terbitan Yayasan Gloria)

Seorang pembuat jam yang terkenal membawa tamunya melihat-lihat tokonya dan menunjukkan 2 cara Mengatur Waktu dari jam-jam yang ada. Pada cara pertama, dipakai sebuah jam utama yang akan memberi tanda/bunyi pada setiap jangka waktu yang ditentukan. Jika jam-jam lainnya salah, maka bunyi tersebut akan memperlihatkan kesalahan jam-jam lainnya itu, tapi tidak bisa memperbaiki jam-jam tersebut.
Cara yang kedua, jam utama dan jam-jam lainnya dihubungkan secara elektris dengan sebuah kronometer. Setiap detak dari jam-jam tersebut dikontrol oleh jam utama (sehingga berdetak sama/berbarengan).
 
Cara pertama pengaturan waktu tadi memberi gambaran akan hukum Tuhan. Hukum Tuhan berdentang memberikan tanda, menunjukkan pada standard Tuhan yang sempurna, tapi tidak bisa memperbaiki kesalahan. Metode/cara kedua memperlihatkan anugrah Tuhan, apa yang hukum tidak dapat lakukan, melalui kasih karunia bisa. Hukum Tuhan mengungkapkan dosa, tetapi tidak bisa menyelamatkan kita dari dosa. Hukum memperlihatkan segala kelemahakn kita, tapi tidak menyediakan kekuatan yang kita perlukan. Hukum mempersalahkan, tetapi tidak dapat membernarkan kita. Hukum memerintahkan tetapi tidka dapat memampukan. Hukum mematikan, tetapi anugrah menghidupkan.
 
Apakah anugrah meniadakan hukum? Tidak, hukum harus tetap ada supaya anugrah diperlukan. Tanpa ada hukum, tak ada dosa, maka tidak perlu anugrah. Sama seperti jam-jam tersebut dihubungkan denggan kronometer dengan jam utama, maka dengan anugrah Kristus dan terhubung terus denganNya kita bisa dalam kontrol-Nya sehingga mempunyai detak yang sama dengan jam utama (yaitu hukum/standard Tuhan).

 

 

~  Roma 7 : 6 

 " ...kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum Taurat." 

Ayat-ayat yang senada dengan ini adalah II Korintus 3

ayat 6 : Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.

ayat 7 : Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian

ayat 8 : betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!

 

Yang dimaksud di sini bukanlah hukum Taurat tidak berlaku lagi, atau kita cukup meminta pimpinan Roh tanpa perlu hukum yang tertulis. Tetapi yang dimaksud adalah soal penjiwaan terhadap hukum Taurat. Bangsa Israel hanya mematuhi sejauh apa yang tertulis, gagal untuk mengerti "jiwa" atau makna rohani dari hukum Taurat. Hukum-hukum itu hanya tetap tinggal pada loh batu (Dasa Titah), yang seharusnya tertanam dalam hati mereka (Yeremia 31: 31, Ibrani 8 : 8 -12).

 

Kotbah di bukit adalah contoh bagaimana menjiwai hukum Taurat. Hanya dengan kuasa Roh, kita dapat menjiwai hukum-hukum Allah dan mentaatinya. Tanpa itu, hanya mendatangkan kematian.

 

 

~  Galatia: 3 : 10-13, Roma 10: 4-5

Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. 

 

Roma 10:4-5 : Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." 

 

Di satu pihak dikatakan : "melakukan Taurat akan hidup karenanya" di pihak lain dikatakan "tidak ada yang dibenarkan karena melakukan Taurat". Yang mana yang benar? Dua-duanya benar.

 

Jika kita dapat melakukan Taurat dengan sempurna kita akan memperoleh hidup. Namun manusia yang sudah dikuasai dosa tidak mungkin sanggup melaksanakannya. ("Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya" Galatia 3:22).

Hanyalah dengan beriman pada Kristus kita dimampukan melaksanakannya (lihat pembahasan Roma 7:4). Jadi imanlah yang membuat kita hidup  ("Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman" Galatia 3:24). 

Ada banyak bagian dalam kitab Galatia yang bisa membuat kita salah mengerti bila tidak dibaca dengan hati-hati, untuk lengkapnya klik di sini.

 

 

~ Kolose 2 : 14

"dengan menghapus surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum  mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib."

Yang dipakukan pada salib adalah surat hutang kita, bukan hukum-hukum (yang telah menyatakan kita bersalah).

Bandingkan dengan Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Kutuk hukum Taurat kita dapat karena kegagalan dalam melakukan hukum Taurat, ada hukuman yang harus ditimpakan pada kita, ada surat hutang yang harus kita bayar. Puji Tuhan, itu semua ditanggung oleh Kristus.

 

~ Kolose 2 : 16-17

Mengenai hal ini dibahas dalam topik "Monumen" (Bab 5 hal 3).

 

 

Kesimpulan

Sementara hukum sipil dalam Taurat berlaku dalam negara Israel yang theokrasi dan hukum upacara menemukan wujudnya dalam karya penebusan Kristus, Hukum moral dalam Sepuluh Hukum adalah tetap, berurat-berakar dalam hubungan antara Pencipta dan ciptaanNya. Diringkas menjadi Hukum Kasih. 

 

 Lanjutkan /kembali ke hal :       

 Home       Daftar Isi

1          3          5      6